TERSIHIR JIWAMU

Kami sedang sarapan berlima mengelilingi sebuah meja makan bundar di suatu pagi sebulan yang lalu. Sebotol kecap di depan kami menjadi sebuah perumpamaan cerita Beliau pagi itu.

Seumpama saja botol kecap yang terbuat dari plastik itu berpendar, menyala dan bercahaya. Maka seluruh perhatian akan tertuju ke arahnya. Mata dan hati terpukau melihat dan mengamatinya. Seluruh perhatian tersita tercurah padanya, seperti tersihir olehnya.

Mata ini mungkin tak lagi melihat yang lainnya. Serasa cukuplah sudah hanya dengan si botol kecap yang memukau itu. Tak perlu lagi teman sarapan yang sedang semeja. Lauk pauk, sayur mayur, gelas, piring, sendok, garpu tak ada artinya lagi.

Karenakan botol kecap yang bersinar menyilaukan itu, maka yang lain seolah pudar lalu menghilang, seolah tak perlu dipedulikan lagi.

Seperti ketika para wanita yang dikisahkan mengiris jemarinya terpukau ketampanan Yusuf dalam sebuah kisah. Atau ibarat si Rangga yang sekarang sedang kembali naik daun tiba-tiba berdiri di hadapan, tersenyum menyapa dengan puisinya. Jari yang teriris pisau pun tak berasa sakitnya. Darah yang mengucur pun untuk apa dipedulikan lagi.

Apa ada yang salah dengan semua ini?
Namanya juga sedang terpukau….

Semoga saja segera kembali menyadari bahwa ternyata botol kecap yang memukau itu memang luar biasa, tetapi di meja makan itu juga ada beberapa orang yang menunggu giliran untuk diperhatikan dengan kisahnya masing masing. Ada lauk pauk, nasi, dan yang lain yang sudah terhidang dan siap disantap. Dan acara sarapan tak kan pernah terjadi bila kita tetap hanya terpaku pada sebotol kecap.

Ada yang salah dengan wanita-wanita yang mengiris jemarinya itu?
Nggak juga.

Namanya juga sedang terpana.
Tapi apakah dengan jemari yang terluka dan berlumuran darah mereka bisa melakukan hal yang bermanfaat dengan lebih baik? Alih alih justru akan mengotori pakaian dan keadaan di sekitarnya.

Lalu bagaimana?
Kembalilah menyadari bahwa kita masih berdiri di atas bumi yang sama. Berteduh di bawah langit yang sama. Bersama sama dengan mereka yang mungkin juga sedang terpukau pada hal yang berbeda. Pada hal hal yang mungkin tak sama dengan apa yang menurutmu begitu memukau.

Jadi…mari lebih menyadari dan peduli pada diri sendiri dan juga pada yang lain.
Ini tentang…caramu melihat dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next article

Coach Arya Anja