TUHAN, ANTARA PERSONA DAN DALEMAN

Persona, pesona atau personae, dalam penggunaan sehari-hari dari kata tersebut, adalah sebuah peran sosial atau karakter yang dimainkan oleh seorang aktor. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin, dimana kata tersebut awalnya ditujukan kepada sebuah topeng teatrikal.

Dalam bahasa sederhananya bisa dikatakan sebagai conscious ataupun topeng yang ingin kita tampilkan berdasarkan apa yang ada dalam fikiran.

Sementara daleman yang diistilahkan dalam tulisan ini adalah soul, jiwa, ataupun bisa juga disebut dengan unconscious/alam bawah sadarnya seseorang.

Kebanyakan dari kita hanya bisa menempatkan Tuhan pada persona semata, oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila masih banyak orang yang merasa ber Tuhan, akan tetapi sikap yang ditampilkan dalam keseharian masih sangatlah jauh dari sifat-sifat Tuhan, yang Maha Pengasih, Penyayang, pemberi Rahmat. dll.

“Bukankah daleman saya juga sudah ber Tuhan ? , buktinya saya selalu taat beribadah, sholat yang tidak pernah putus, sering berdzikir, itikaf, sedekah, bahkan sudah pernah naik haji !”

Saya tidak memiliki kapasitas dan maksud untuk menilai apakah benar atau salah, karena semua itu hanyalah Tuhan yang tahu apakah masih hanya sebatas Persona atau sudah berikut dengan daleman.

Namun sebagai manusia, alangkah baiknya apabila kita harus mengetahui indikator-indikator keberadaan Tuhan dalam diri kita.

“Apakah keberadaan kita sehari2 sudah mencerminkan kasih sayang, jauh dari ujaran2 kebencian, dan memberikan manfaat bagi orang2 sekeliling kita ? , kepada keluarga kita, kepada teman2 kita, bahkan kepda alam semesta ini.”

“Apakah kita masih banyak menyimpan dendam, iri, sakit hati, atau amarah ?”

“Apakah banyak dari teman2 kita yang merasa tenang, tenteram dan nyaman apabila bertemu dengan kita ? atau malah sebaliknya, dengan kehdiran kita justru sering membuat  grup WA/medsos menjadi ajang perdebatan bahkan sampai ada yang ‘leave’  dan marah2 ? “

Maka tidaklah mengherankan jikalau kita melihat sesuatu yang terkadang sangat bertolak belakang, “kelihatannya sangat alim dan taat, tetapi kelakuannya kok seperti itu yaa?” , semua ini bisa terjadi jikalau hanya ber-Tuhan sebatas Persona nya saja.

Bagi yang dalemannya sudah ikut ber Tuhan juga, maka akan merasakan rasa bersalah atau tidak enak ati pada diri nya jika berniat atau melakukan sesuatu hal yang dianggap tidak baik.  Pada level ini lah sebenarnya yang membuat Agama itu bisa membentengi perilaku.

“Wahhh … dia itu pasti hanya ber-Tuhan sebatas persona nya saja !”  ,  sangatlah tidak bijaksana menilai orang lain, karena semua dari kita ini juga sedang ber-proses untuk menjadi lebih baik, sibuk lah kita dengan menilai diri kita sendiri saja.  

Karena sesungguhnya penilaian kita terhadap orang lain, merupakan cerminan diri kita sendiri juga (projection), semakin sering kita menilai buruk terhadap orang lain, maka sangat mungkin sekali itu dikarenakan banyaknya keburukan dalam diri kita sendiri.

Pancaran atau vibrasi dari Tuhan yang ada didalam diri seseorang terlihat dari seberapa positif sikap yang ditunjukkan dalam keseharian, membuat lingkungan sekitarnya tergerak untuk menjadi lebih positif tanpa dia sendiri menyadarinya, bukan kah ini praktek dari “Rahmatan lil’alamin” ?

Semoga tulisan ini bisa mengetuk pintu kesadaran kita semua, atau setidaknya bisa menjadi referensi untuk menambah wawasan kita, mohon maaf apabila ada sesuatu yang tidak berkenan. ?

Medan, Mei 2020

One thought on “TUHAN, ANTARA PERSONA DAN DALEMAN

  1. jonni pardamean hasibuan says:

    Alhamdulillah.
    Terimakasih atas pencerahan nya abangda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous article

DAKWAH KE KINIAN

Next article

TERSIHIR JIWAMU