MEMAHAMI FIRMAN TUHAN

Saudara2 ku se iman yang di rahmati oleh Nya, sesuai dengan judulnya MENCOBA UNTUK MEMAHAMI, yang berarti bahwa apapun yang ada dalam tulisan ini bukanlah suatu kebenaran mutlak, akan tetapi tetapi merupakan sudut pandang saya pribadi yang mencoba mengulas dan berbagi tentang FIRMAN-FIRMAN TUHAN, yang semua ini ditulis semata-mata hanya untuk mengaplikasikan pesan dari AA “Pelajari dan kuasailah Ilmu Pengetahuan, agar engkau sempurna men-Tauhid-kan Tuhan.”  Semoga dengan tulisan ini dapat menambah keceriaan di Grup ini dan juga bisa menambah wawasan dan masukan untuk lebih “memahami” cara kerja semesta ini agar kita semua bisa menjadi bagian dari Rahmatan lil ‘alamin seperti yang diharapkan oleh Guru kita.

Firman Tuhan merupakan sesuatu yang menjadi pedoman dan petunjuk (guidance) kita dalam menjalani kehidupan ini (bagi yang percaya kepada Tuhan), defenisi tentang Tuhan itu saja tentu berbeda untuk setiap kepercayaan, disini saya tidak membahas tentang mana yang benar atau salah, karena kebenaran itu hanya Tuhanlah yang mengetahuinya, akan tetapi lebih fokus kepada wajar atau tidak (kewajaran) sehingga diharapkan dapat mempengaruhi kesadaran dan sikap kita terhadap sesuatu yang berbeda.

Seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa ada beberapa jenis Firman dari Tuhan, yaitu :

1) Firman Kitabi,   
2) Firman Nafsani   dan    
3) Firman Afaqi

1) Firman Kitabi.  ini merupakan perkataan Tuhan yang telah tertulis dalam Kitab.

Kitab2 Al-Quran, hadist, dll merupakan pedoman bagi Muslim, bagi kepercayaan lain tentu berbeda, Nasrani, Budha, Hindu, dll juga mempunyai kitab2 mereka sendiri.

Sebagai contoh umum : Kita sebagai warga negara Indonesia wajib untuk mematuhi apa yang telah digariskan di UUD-45, sebagai contoh salah satu isi nya “apa2 yang terkandung didalam bumi Indonesia ini yang dibutuhkan oleh orang banyak adalah milik negara“, apabila diketemukan sumur minyak di belakang rumah saya, maka itu merupakan milik negara. Kita harus mematuhi ini ( tidak ditanya setuju atau tidak ) karena telah ditulis di kitab UUD-45. Akan tetapi hal tersebut berbeda dengan orang2 di Amerika.

Apakah wajar kalau kita memaksa orang2 Amerika tersebut untuk mematuhi apa2 yang tertera dalam UUD-45 ?

Apakah kita harus marah apabila isi kitab UUD mereka berbeda dengan kita ?

Kembali ke pokok bahasan, dalam Al-Quran kita di haram kan untuk makan babi, dsb.

Apabila melihat orang (non-muslim) memakan babi, apakah kita harus marah ?

Saya yakin tentu jawabannya adalah TIDAK, akan tetapi dalam praktek sehari2 nya “saya dulu” sering benci (marah) apabila ada melihat orang lain memakan babi 🙂 … itu saya looh….

walau itu tidak terucap, tetapi ada kebencian dalam diri saya …. kebencian itu adalah suatu sifat negatif … secara tidak langsung kita memancarkan “aura-negatif” kepada semesta … sesuai dengan hukum tarik-menarik (LoA) … niscaya alam ini akan memancarkan hal-hal negatif juga kepada kita …. sadari.. lah …..

Contoh lainnya : apabila melihat orang2 beribadat di kuil, atau vihara atau di gereja … mereka bernyanyi .. membakar dupa … menyembah patung …. dalam hati saya langsung berkata “entah apa2 aja siihhh yang dilakukan mereka … setan semua itu !!! ” 

Pertanyaan-1:  “mereka beribadah sesuai dengan kepercayaan (kitab) mereka, apakah itu hal yang negatif ? “

Pertanyaan-2: “sikap membenci dalam hati saya tsb, apakah itu negatif ?”

Mungkin dari beberapa contoh sederhana diatas, dapat membuat “mind-set” menjadi lebih positif dimasa yang akan datang …

Kesimpulan dari Firman Kitabi adalah bahwa Firman Kitabi tersebut berlaku untuk sekelompok (sekumpulan orang), apakah itu agama, negara, suku, dsb. Atau dalam bahasa Human Design nya adalah untuk “Tribe / Tribal”.

2) Firman Nafsani.  Banyak pendapat tentang hal ini, yang intinya adalah tentang “diri”. Bahkan ada ilmu populer yaitu “ilmu al nafs” , istilah ilmu al nafs banyak dipakai dalam literatur psikologi Islam, meskipun sebenarnya term al nafs tidak dapat disamakan dengan istilah-istilah psikologi kontemporer seperti soul atau psyche. Hal demikian dikarenakan al nafs merupakan gabungan substansi jasmani dan ruhani, sedangkan soul dan psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia (Abdul Mujib: 5).

Dalam berkesurauan juga ada terjadi bias dalam memahami “nafsani” ini, saya dulu beranggapan apa yang di katakan oleh Guru Guru kita itu adalah “Nafsani” … ini benar … tetapi dalam beberapa perbincangan dengan AA, Beliau mengatakan “itu nafsani mereka … ” (ini yang sering membuat saya bingung … nafsani mereka apa tidak sama dengan nafsani saya?), itu memang … kebodohan ku  ?…. maka nya … saya berusaha keras untuk lebih memahami apa yang di maksud oleh AA tersebut.

Lebih jelasnya adalah : dari pemahaman saya sebelumnya adalah : Sewaktu Bapanda mengomong tentang sesuatu “kepada si A”, disitu juga terdapat si B, si C dll, maka saya berpendapat bahwa omongan Bapanda tersebut adalah untuk semua yang berada disitu …. bahkan juga berlaku untuk yang tidak duduk disitu (kita semua).

Tetapi setelah lebih banyak belajar sekarang pemahaman saya lebih berbeda sedikit, yaitu omongan Bapanda tadi hanya berlaku kepada si A, bukan kepada si B, si C dan yang lainnya. Karena sebenarnya konsep dari nafsani itu adalah “perintah Tuhan kepada orang tersebut (individu)”.

Contoh-1 : Seseorang berpenyakit Gula (diabetes) maka orang tersebut tidak bagus atau tidak bisa untuk mengkonsumsi gula tebu (seperti teh manis, dsb. ). artinya bahwa Perintah Tuhan untuk orang tersebut (nafsani) adalah dilarang meng-konsumsi gula tebu, sebab musabab nya adalah … orang tersebut berpenyakit diabetes. Kenapa Tuhan memberikan hal tersebut ? ( ini saya nggak tau laaah … ? ? ?wkwkwkwkwkkkkk ); yang jelas Tuhan selalu memberikan kita hal terbaik menurut Tuhan, … bukan terbaik menurut kita .

Contoh-2 : Seseorang merasakan nyaman dengan dzikir tertentu …. artinya itu nafsani orang tersebut. Apakah setiap orang harus berdzikir seperti dia ??

Contoh-3 : Kita seumpanya sangat menyukai rasa sop-buntut .. waahhh ..?  jadi lapar neehh…..  xixixixi ? ……  rasa itu merupakan individu … Apakah orang yang tidak menyukai sop-buntut itu salah ?     Apakah kita harus memaksakan orang lain untuk suka sop-buntut ?

Mungkin dengan uraian singkat ini kita bisa lebih mengerti .. yang mana yang nafsani … artinya nafsani itu hanyalah untuk individu … dan tidak bisa di paksakan untuk orang lainnya.

Mungkin sebagian dari orang lain juga merasakan hal yang sama … akan tetapi TIDAK SEMUA … cobalah untuk menyadari hal tersebut … agar kita bisa menjadi lebih lentur dalam menghadapi hidup ini .

Kesimpulan dari Firman Nafsani adalah bahwa Firman tersebut berlaku untuk perorangan saja. Atau dalam bahasa Human Design nya adalah untuk “Individual”.

3) Firman Afaqi.  Firman ini merupakan Hukum Universial ataupun hukum alam yang berlaku bukan hanya untuk perorangan, atau perkelompok, akan tetapi berlaku untuk keseluruhan alam semesta ini. Yang dalam bahasa Human Design nya disebut dengan “Collective”.

Kita sebagai salah satu mahluk yang hidup di bumi ini juga di “wajib” kan untuk mematuhi hukum ini, seperti yang sering di ucapkan Bapanda “kita adalah orang2 akhirat yang main2 ke bumi” yang sangat sesuai dengan QS-6:Al-An’aam-32 : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Sebagai tamu yang berada di bumi, kita diwajibkan untuk mentaati apa2 saja hukum yang berlaku di bumi ini (bukan hukum kampung akhirat kita), agar bumi atau alam ini juga mau memberikan kepada kita apa saja yang bisa diberikan oleh nya.

Sebagai contoh : kita sedang bermain2 ke rumah seorang teman, maka kita harus men-taati apa yang menjadi aturan di rumah teman tersebut (bukan aturan kita ataupun aturan akhirat), kalau dalam rumah harus buka sepatu, kita harus buka sepatu, jikalau didalam rumah tersebut tidak boleh merokok, maka sebaiknya kita jangan merokok…. bagaimana kalau kita melanggar aturan tersebut ?

Mungkin teman tersebut akan merasa tidak nyaman, dan bisa2 dia TIDAK AKAN menyediakan minum kepada kita wkwkwkwkwwkkkk ? ?  … akan tetapi kalau kita sopan dan mematuhi seluruh aturan yang berlaku maka mungkin teman kita tersebut akan merasa senang, nyaman dan bisa2 mengeluarkan seluruh makanan dan minuman yang dimiliki nya dan berharap kita bisa berlama2 dirumah nya…xixixixixiiiii

Sangat sederhana kan ? ….. apabila kita mematuhi hukum universal ini … maka niscaya alam ini pun akan memberikan seluruh apa yang dapat disediakan untuk kita …. ( wahhh … jangan2 ini yang membuat ku tidak pernah menjadi orang kaya … karena selalu menentang hukum alam tersebut wkwkwkwkwkwkk ? ? ).

Contoh-1 : Orang yahudi .. atau orang apapun kalau dia sekolah kedokteran … niscaya akan menjadi seorang Dokter . Alam tidak peduli dia orang apa … selagi melaksanakan rukun-syarat nya .. niscaya alam akan menyediakan apa yang menjadi hasil dari rukun-syarat tersebut.

Contoh-2 : Ada orang surau kita, yang menanam cabe … dia punya tanah 1 ha, kemudian di tanami oleh nya bibit cabe … setelah itu dia berdzikir2 saja … dan percaya bahwa apabila berdzikir … maka niscaya Tuhan akan membantu nya … kan dulu sering dikatakan oleh Guru kita “kerjakan urusan Ku, niscaya akan kuselesaikan urusan mu …” … weleh weleh ? …. ini lahhh pemahaman yang perlu di lurus kan ….. Bukan ucapan Guru tersebut yang melenceng … akan tetapi pemahaman kita tentang ucapan tersebut yang melenceng !

Berdzikir (beramal sendirian) itu merupakan sesuatu untuk mem-positif-kan diri kita sendiri, bukan untuk Tuhan !!! …  berarti kita tetap harus melakukan rukun-syarat yang berlaku secara umum ( Afaqi ) untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal, seperti merawat, memupuk, dll nya terhadap tanaman cabe tersebut. Setelah semua rukun syarat kita penuhi … barulah kita berdoa semoga diperkenankan NYA untuk hasil yang maksimal … itu pun kalau DIA berkenan … nah … kalau tidak berkenan bagaimana ?? (pikirkan sendiri aja laaah …. pusing saya …? karena bisa semakin melebar pembahasan tentang ini … kan topik kita saat ini adalah tentang hukum semesta ! )

Contoh-3 : Tahlilan (bukan NI yaaa, apa itu NI bang ??? yaa Suluk lahhh !!! ? ) … ini sebenarnya merupakan hukum alam juga … nahh loohhh… ??   iyaa memang benar … Tahlilan itu adalah sesuatu yang dilakukan bersama2 untuk mem-positif-kan alam sekitar kita. Ini juga alasan kenapa kita tahlilan di rumah orang yang meninggal , agar yang ditinggalkan lebih tenang (positif) dalam menerima musibah ini. Dan jikalau sekitaran kita sering bertengkar, atau diantara anggota rumah kita (yang tinggal dirumah) sering bertengkar satu dengan lainnya, cobalah bertahlil … kami sudah sering meng-uji cobakan hal tersebut ☺.

Maksud dari hukum alam dalam kasus ini adalah bisa dilakukan oleh siapa saja, maka akan mendapat hasil yang positif pada lingkungan sekitaran … jadi bukan hanya dilakukan orang2 Thariqat saja (yang punya Guru) … tetapi juga berlaku untuk seluruh umat manusia … termasuk juga umat non-muslim … looh ?? kok jadi membingungkan yaa ??? samalaaah !!! ? aku juga bingung !! ??

Tahlil memang hanya dilakukan oleh umat Muslim … mungkin juga ada hal2 serupa yang dilakukan oleh umat lain (non-muslim) … yaaa jelas nama nya bukan TAHLIL … akan tetapi KONSEP nya sama dengan Tahlil, yang salah satunya adalah “merasakan ketenangan” pada diri sendiri dan sekitaran dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan.  Masa siih ????  ?

Wahhh….  kalau hanya umat Islam aja yang merasakan dan umat lain TIDAK ADA MERASAKAN hal tersebut …. niscaya semua orang diseluruh dunia ini akan masuk ISLAM … dan tidak akan ada orang yang mau masuk agama lain … wkwkwkwkwkkkkk ? ?

Contoh-4 : Bagaimana dengan ritual-ritual peribadatan yang lain ?? YAAA .. karena tujuan dari semua itu adalah AFAQI … walaupun tata-cara nya adalah KITABI. Karena SALAH SATU TUJUAN dari beribadah, baik Muslim ataupun Non-Muslim itu adalah MEM-POSITIF-KAN diri. Lebih lengkapnya adalah : Tujuannya=AFAQI , TataCaranya = KITABI , dan hasilnya = NAFSANI.

Itu sebabnya di negara2 yang KUAT BERAGAMA pasti hanya ada SEDIKIT PSIKIATER.

Jadi … kalau ada umat lain yang sedang beribadah … apakah itu sesuatu yang POSITIF ?? ( saya tidak bertanya apakah itu benar, atau sampai ke Tuhan ??  ). Kalau itu sesuatu yang positif … kenapa kita (walau terkadang dalam hati) sering menatap SINIS bahkan BENCI kepada agama lain yang sedang beribadah ?

Kalau itu POSITIF .. kenapa kita SINIS bahkan terkadang BENCI kepada agama lain ?

Apakah hal SINIS/BENCI dari diri kita tersebut adalah POSITIF ?? atau jangan2 NEGATIF ??

Disini saya tidak menyuruh anda menyukai atau pindah ke agama lain, tetapi cobalah untuk TIDAK MEMBENCI … Benci dan Sinis tersebut sebenarnya adalah salah satu “SHADOW” dari pengaruh lingkungan kita yang telah tertanam kealam bawah sadar sedari kecil.

Agama lain juga merupakan bagian dari alam … Rahmatan Lil ‘Alamin … adalah Rahmat bagi seluruh Alam …. bukanlah Rahmatan Lil Muslimin !

Ingat … semakin banyak hal negatif yang kita simpan dalam diri kita, maka semakin negatif alam ini kepada kita !  (Law of Attraction) ;  kita sendiri kok yang memutuskan nya !!! ?

Ehhh .. apa tadi itu ??? SHADOW ??   Iyaaa …. pelajari lah tentang Shadow … googling aja “shadow psychology” … akan banyak sekali keterangan tentang itu …

Dengan lebih banyak kita belajar psychology seperti Human Design salah satunya, maka akan semakin BIJAKSANA lah kita dalam menghadapi hukum2 alam ini … bukan kah ini semua adalah praktek dari FIRMAN AFAQI ?

QS 18-Al Kahfi-109 :  Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”

Begitu juga dengan pesan AA “Pelajari dan kuasailah Ilmu Pengetahuan, agar engkau sempurna men-Tauhid-kan Tuhan.

Semoga tulisan ini berguna untuk memperluas “mind-set” kita tentang kehidupan ini. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan ? … karena ini hanya dari sudut pandang saya sendiri … kan tadi judulnya adalah MENCOBA … artinya ini bukan sebuah kebenaran yang mutlak .. heheheheee

Medan, Maret 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous article

PERSEPSI DAN KEBENARAN

Next article

BERDZIKIR MASAM